1 Agustus 2018
Bagaimana bisa aku mengucapkannya?
Bagaimana bisa aku mengakuinya?
Darimana bisa aku punya keberanian seperti itu?
Dua tahun kupendam begitu saja, bagaimana bisa? Aku pun bingung. Ini awal nya, ya?
Setelah tanggal itu, banyak waktu kita lalui bersama. Tapi sepertinya hanya aku saja yg ingat, ya? Seandainya mata ini bisa menjadi alat perekam, mungkin akan selalu kuputar ulang semuanya.
Tapi ternyata tidak perlu, aku masih ingat semuanya. Masih ingat senyumannya. Masih ingat tawanya. Masih ingat semua guyonannya. Masih ingat muka serius di depan laptopnya. Masih ingat perhatian kecilnya. Masih ingat semua ceritanya. Masih ingat tangisannya?:p
Terlalu banyak, terlalu banyak yg telah kau ceritakan padaku; cerita masa lalumu, kekhawatiranmu, mimpimu, imajinasi liarmu. Sial, aku makin kagum. Kau sengaja, ya? Haha.
21 November 2018
Tapi entah mengapa kita semakin jadi berjarak. Kenapa bisa ya? Padahal semua terasa baik-baik saja. Kita masih sama-sama malam sebelumnya. Aku masih menyaksikan kau memaparkan hasil penelitianmu hari itu.... Bisa kah kau jelaskan padaku? Aku tidak tahu.
Mungkin salahku yg selalu diam dan tidak berani menghubungimu duluan? Atau mungkin kita memang seharusnya seperti ini?
Hi, banyak cerita beredar di luar sana. Apalagi apdetan itu, sungguh membuatku seperti tersambar petir. Aku memilih tidak peduli seperti biasanya. Tapi aku pun melihatnya sendiri, kau dengannya. Banyak asumsi dan spekulasi mendadak muncul di otakku. Jadi, aku harus bagaimana? Apakah kau masih mau memberikan penjelasan? Apakah aku yg selama ini salah mengartikan? Apakah kita memang hanya sekadar teman?
Tapi kurang lebihnya, terima kasih yaa.
Terima kasih sudah mewujudkan delusi-delusi norak ku. Late midnight dinner and that long way walk home definitely my favourite!
Sudah ya, doakan aku bisa menanggung dan melewati semua ini.
Semoga kau selalu bahagia, kau berhak mendapatkannya.
💞💞💞💞💞

0 komentar:
Posting Komentar